Halo, Blogger.
Hari ini, Jumat 7 November mungkin merupakan hari yang tak jauh berbeda dari hari-hari lainnya bagi Anda, namun bagi saya hari ini merupakan hari pertama saya untuk berhak menambahkan satu gelar pendidikan S1 di belakang nama saya. Fiuuhh..butuh kerja keras untuk mendapatkannya. Hasil ini tidak lekas membuat saya puas begitu saja, bagi saya pencapaian saya ini hanyalah awal atau salah satu modal dari pengarungan hidup yang sesungguhnya (di luar sana). Benar saja, belum beberapa jam saya menikmati gelar ini, datang sepucuk lembar di depan saya sebuah catatan lepas dari sebuah Masjid tempat saya melaksanakan solat jumat, artikel mengenai Tujuan Pendidikan. Uhh, seperti sebuah peringatan dari Tuhan setelah saya membacanya. Artikel ini, berisi tentang Tujuan Pendidikan menurut salah satu ilmuwan besar bernama Ibnu Khaldun. Bagi yang belum mengetahui siapa Ibnu Khaldun, link tersebut menuju kepada biografi beliau.
Entah ini berkah solat Jumat atau apa, tapi saya sangat bersyukur membaca artikel ini, karena bagi saya hal ini merupakan sebuah peringatan atas gelar yang saya dapatkan tepat sehari sebelumnya. Karena itu saya ingin menyadurkan artikel tulisan yang berjudul “Tujuan Pendidikan menurut Ibnu Khaldun” ini kepada Anda semua, Blogger. Semoga tulisan ini bermanfaat.
Tujuan Pendidikan Menurut Ibnu Khaldu. Sebuah tulisan lepas dari Buletin Al Qalam, media kajian wawasan islam. 7 Nov 2008
Menurut Ibnu Khaldun menyatakan bahwa ilmu pendidikan bukanlah suatu aktivitas yang semata-mata bersifat pemikiran dan perenungan yang jauh dari aspek-aspek pragmatis di dalam kehidupan, akan tetapi ilmu dan pendidikan merupakan gejala konklusif yang lahir dari terbentuknya masyarakat dan perkembangannya dalam tahapan kebudayaan. Menurutnya bahwa ilmu dan pendidikan tidak lain merupakan gejala sosial yang menjadi ciri khas jenis insani. Di dalam kitab Muqaddimahnya Ibnu khaldun tidak memberikan definisi pendidikan secara jelas, ia hanya memberikan gambaran-gambaran secara umum, seperti dikatakan Ibnu Khaldun bahwa: Barangsiapa tidak terdidik oleh orang tuanya, maka akan terdidik oleh zaman, maksudnya barangsiapa tidak memperoleh tata krama yang dibutuhkan sehubungan pergaulan bersama melalui orang tua mereka yang mencakup guru-guru dan para sesepuh, dan tidak mempelajari hal itu dari mereka, maka ia akan mempelajarinya dengan bantuan alam, dari peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang zaman, zaman akan mengajarkannya.
Dari pendapatnya ini dapat diketahui bahwa pendidikan menurut ibnu Khaldun mempunyai pengertian yang cukup luas. Pendidikan bukan hanya merupakan proses belajar mengajar yang dibatasi oleh empat dinding, tetapi pendidikan adalah suatu proses, di mana manusia secara sadar menangkap, menyerap, dan menghayati peristiwa-peristiwa alam sepanjang zaman. Menurut Ibnu Khaldun bahwa secara esensial manusia itu bodoh, dan menjadi berilmu melalui pencarian ilmu pengetahuan. Alasan yang dikemukakan bahwa manusia adalah bagian dari jenis binatang, dan Allah SWT telah membedakannya dengan binatang dengan diberi akal pikiran. Kemampuan manusia untuk berpikir baru dapat dicapai setelah sifat kebinatangannya mencapai kesempuranaan, yaitu dengan melalui proses; kemampuan membedakan. Sebelum pada tahap ini manusia sma sekali persis seperti binatang, manusia hanya berupa setetes sperma, segumpal darah, sekerat daging dan masih ditentukan rupa mentalnya. kemudian Allah memberikan anugerah berupa pendengaran, penglihatan dan akal. Pada waktu itu manusia adalah materi sepenuhnya karena itu dia tidak mempunyai ilmu pengetahuan. Dia mencapai kesempurnaan bentuknya melalui ilmu pengetahuan yang dicari melalui organ tubuhnya sendiri. setelah manusia mencapai eksistensinya, dia siap menerima apa yang dibawa para Nabi dan mengamalkannya demi akhiratnya. Maka dia selalu berpikir tentang semuanya. Dari pikiran ini tercipta berbagai ilmu pengetahuan dan keahlian-keahlian. Kemudian manusia ingin mencapai apa yang menjadi tuntutan wataknya; yaitu ingin mengetahui segala sesuatu, lalu dia mencari orang yang lebih dahulu memiliki ilmu atau kelebihan. Setelah itu pikiran dan pandangannya dicurahkan pada hakekat kebenaran satu demi satu serta memperhatikan peristiwa-peristiwa yang dialaminya yang berguna bagi esensinya. Akhirnya dia menjadi terlatih sehingga pengajaran terhadap gejala hakekat menjadi sebuah kebiasaan (malakah) baginya. Ketika itu ilmunya menjadi suatu ilmu spesial, dan jiwa generasi yang sedang tumbuh pun tertarik untuk memperoleh ilmu tersebut. Merekapun meminta bantuan para ahli ilmu pengetahuan, dan dari sinilah timbul pengajaran. Inilah yang oleh Ibnu Khaldun dikatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan hal yang alami di dalam peradaban manusia. Adapun tujuan pendidikan menurut Ibnu Khaldun, bahwa di dalam Muqaddimahnya ia tidak merumuskan tujuan pendidikan secara jelas, akan tetapi dari uraian yang tersirat, dapat diketahui tujuan yang seharusnya dicapai di dalam pendidikan. Dalam hal ini al-Toumy mencoba menganalisa isi Muqaddimahnya dan ditemukan beberapa tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Dijelaskan menurutnya ada enam tujuan yang hendak dicpai melalui pendidikan, antara lain:
1. Menyiapkan seseorang dari segi keagamaan, yaitu dengan mengajarkan syair-syair agama menurut al-Quran dan Hadits Nabi sebab dengan jalan itu potensi iman itu diperkuat, sebagaimana dengan potensi-potensi lain yang jika kita mendarah daging, maka ia seakan-akan menjadi fithrah.
2. Menyiapkan sesorang dari segi akhlak. Hal ini sesuai pula dengan apa yang dikatakan Muhammad AR., bahwa hakekat pendidikan menurutIslam sesungguhnya adalah menumbuhkan dan membentuk kepribadian manusia yang sempurna melalu budi luhur dan akhlak mulia.
3. Menyiapkan sesorang dari segi kemasyarakatan atau sosial.
4. Menyiapkan sesorang dari segi vokasional atau pekerjaan. Ditegaskannya tentang pentingnya pekerjaan sepanjang umur manusia, sedang pengajaran atau pendidikan menurutnya termasuk di antara ketrampilan-ketrampilan itu.
5. Menyiapkan sesorang dari segi pemikiran, sebab dengan pemikiran sesorang dapat memegang berbagai pekerjaan atau ketrampilan tertentu.
6. Menyiapkan sesorang dari segi kesenian, di sini termasuk musik, syair, khat, seni bina dan lain-lain.
Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan bukan hanya bertujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan akan tetapi juga untuk mendapatkan keahlian. Dia telah memberikan porsi yang sama antara apa yang akan dicapai dalam urusan ukhrowi dan duniawi, karena baginya pendidikan adalah jalan untuk memperoleh rizki. Maka atas dasar itulah Ibnu Khaldun beranggapan bahwa target pendidikan adalah memberikan kesempatan kepada pikiran untuk aktif dan bekerja, karena dia memandang aktivitas ini sangat penting bagi terbukanya pikiran dan kematangan individu. Karena kematangan berpikir adalah alat kemajuan ilmu industri dan sistem sosial. Dari rumusan yang ingin dicapai Ibnu Khaldun menganut prinsip keseimbangan. Dia ingin anak didik mencapai kebahagiaan duniawi dan sekaligus ukhrowinya kelak. Berangkat dari pengamatan terhadap rumusan tujuan pendidikan yang ingin dicapai Ibnu Khaldun, secara jelas kita dapat melihat bahwa ciri khas pendidikan islam yaitu sifat moral religius nampak jelas dalam tujuan pendidikannya, dengan tanpa mengabaikan masalah-masalah duniawi. Sehingga secara umum dapat kita katakan bahwa pendapat Ibnu Khaldun tentang pendidikan telah sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan Islam yakni aspirasi yang bernafaskan agama dan moral.
catatan: tulisan ini disadur dari buletin lepas suatu masjid pada waktu Solat jumat, 7 Nov 2008.



Posted by mulyadi on November 7, 2008 at 11:55 am
Assalamu’alaikum wr. wb.
Salam kenal sdr. Farhan, saya ikut dan salut atas cara berpikir anda, semoga Allah memberkahi anda dan kita semua. Amin
Mulyadi dari Kota Tasikmalaya
Posted by farhanvsgnk on November 7, 2008 at 3:02 pm
terimakasih. saya harus banyak belajar dari orang-orang seperti anda
Posted by Roberto Edward on November 11, 2008 at 6:51 am
hohoho… ternyata kita sama2 satu fikom satu angkatan dan satu wisudaan…
ampe ketemu di Dipatiukur entah tanggal 25-27 November nanti dan selamat atas nama barumu…
terakhir….. salam sukses untuk bisnis online ala Haryo Prabowonya… hehehe…
Posted by farhanvsgnk on November 14, 2008 at 9:51 pm
oiya, notice juga akhirnya. Sebenarnya sih gw juga tau lo anak Fikom dr blog lo tp gw ga notice sama paras nya aja, hehe.. thx anyway
Posted by karina on November 26, 2008 at 12:19 pm
ass. salam kenal dari saya…
buka blog anda karena disusuh cari tugas mata kuliah…
tq atas pemikiran2 anda yang brilian!!
karin_Universitas Al-azhar Indonesia
Posted by farhanvsgnk on November 26, 2008 at 4:48 pm
iya salam kenal..haha..itu bukan tulisan saya, saya cuma mengutip..ada keterangannya kan..